Babinsa dan Warga Sabet Bersinergi Cegah Karhutla, Edukasi Bahaya Bakar Lahan Terus Diperkuat

ACEH JAYA – Di tengah meningkatnya kekhawatiran akan kebakaran hutan dan lahan (karhutla), langkah pencegahan terus digencarkan hingga ke tingkat desa. Senin (04/05/2026), Babinsa Koramil 01/Jaya Kodim 0114/Aceh Jaya, Koptu Rahmat Putra, melaksanakan patroli karhutla di Desa Sabet, Kecamatan Jaya, bersama masyarakat setempat.

Patroli ini bukan sekadar kegiatan rutin, tetapi menjadi upaya nyata untuk mengantisipasi potensi kebakaran sejak dini. Wilayah pedesaan yang didominasi lahan kebun dan semak belukar memang memiliki kerawanan tersendiri, terutama saat cuaca berubah-ubah antara panas dan hujan. Kondisi ini sering kali membuat vegetasi menjadi kering dalam waktu singkat dan mudah terbakar.

Dalam kegiatan tersebut, Koptu Rahmat Putra menyempatkan diri berdialog langsung dengan warga, termasuk Tengku Syarifuddin, tokoh masyarakat setempat. Ia menyampaikan imbauan agar masyarakat tidak membuka lahan dengan cara dibakar, meskipun metode tersebut kerap dianggap praktis dan cepat.

Menurutnya, kebiasaan membakar lahan memiliki risiko besar yang sering kali tidak disadari. Api yang awalnya kecil bisa dengan cepat meluas, apalagi jika tertiup angin. Dalam banyak kasus, kebakaran yang tidak terkendali justru merugikan pemilik lahan sendiri dan berdampak luas bagi lingkungan sekitar.

“Asap yang dihasilkan juga bisa mengganggu kesehatan, terutama bagi anak-anak dan lansia. Belum lagi jika api merambat ke lahan lain, dampaknya bisa semakin besar,” ujarnya saat memberikan penjelasan kepada warga.

Selain dampak langsung, kebakaran lahan juga membawa konsekuensi jangka panjang. Tanah yang terbakar berulang kali akan kehilangan kesuburannya, sehingga hasil pertanian menurun. Ini tentu menjadi kerugian tersendiri bagi masyarakat yang menggantungkan hidup dari sektor perkebunan dan pertanian.

Kegiatan patroli yang melibatkan masyarakat ini juga menjadi sarana untuk membangun kesadaran kolektif. Warga diajak untuk tidak hanya menjadi objek imbauan, tetapi juga menjadi bagian dari solusi. Dengan saling mengingatkan dan menjaga lingkungan bersama, potensi karhutla dapat ditekan secara signifikan.

Tengku Syarifuddin menyambut baik kegiatan tersebut. Ia mengakui bahwa edukasi seperti ini penting, terutama untuk mengingatkan kembali masyarakat tentang dampak negatif dari pembakaran lahan. Menurutnya, pendekatan yang dilakukan secara langsung seperti ini lebih mudah diterima dibandingkan hanya melalui informasi sepintas.

Di sisi lain, kehadiran Babinsa di tengah masyarakat memberikan rasa aman dan kedekatan tersendiri. Tidak hanya hadir saat terjadi masalah, tetapi juga aktif melakukan pencegahan sebelum hal yang tidak diinginkan terjadi. Pendekatan seperti ini dinilai efektif dalam membangun hubungan yang harmonis antara aparat dan warga.

Karhutla sendiri bukan hanya persoalan lokal, tetapi juga menjadi isu nasional bahkan internasional. Dampaknya bisa meluas hingga ke wilayah lain melalui kabut asap yang mengganggu aktivitas dan kesehatan. Oleh karena itu, pencegahan di tingkat desa menjadi langkah penting yang tidak bisa diabaikan.

Selain memberikan imbauan, patroli juga dilakukan dengan memantau langsung kondisi lahan di sekitar desa. Hal ini bertujuan untuk memastikan tidak ada titik api atau aktivitas pembakaran yang berpotensi menimbulkan kebakaran. Dengan pemantauan yang rutin, potensi risiko dapat diketahui lebih awal.

Bagi masyarakat Desa Sabet, kegiatan ini menjadi pengingat bahwa menjaga lingkungan adalah tanggung jawab bersama. Tidak hanya untuk kepentingan saat ini, tetapi juga untuk generasi yang akan datang. Lingkungan yang terjaga akan memberikan manfaat jangka panjang, baik dari segi ekonomi maupun kesehatan.

Dalam percakapan santai yang terjadi selama patroli, terlihat bahwa warga mulai memahami pentingnya mencari alternatif lain dalam membuka lahan tanpa harus membakar. Meskipun membutuhkan usaha lebih, cara tersebut dinilai lebih aman dan berkelanjutan.

Menjelang akhir kegiatan, suasana tetap terasa akrab. Babinsa dan warga tampak berjalan bersama menyusuri area sekitar, memastikan kondisi tetap aman. Interaksi sederhana ini justru menjadi fondasi kuat dalam membangun kesadaran bersama.

Apa yang dilakukan Koptu Rahmat Putra bersama masyarakat Desa Sabet menunjukkan bahwa pencegahan karhutla tidak harus menunggu situasi darurat. Justru dari langkah kecil dan konsisten seperti inilah risiko besar bisa diminimalkan.

Pada akhirnya, menjaga lingkungan bukan hanya soal aturan, tetapi juga tentang kesadaran dan kepedulian. Ketika masyarakat dan aparat berjalan beriringan, harapan untuk menciptakan lingkungan yang aman, sehat, dan bebas dari kebakaran menjadi semakin nyata.(0114).